20
Oct
09

women…saya seorang feminis….

benarkah perempuan emosional dan lemah akalnya?

Perempuan, Tidak Selemah yang Dikira Bila diberi kesempatan sama, perempuan mampu mengungguli laki-laki.

Perlukah saling mengungguli?

Benarkah perempuan emosional dan lemah akalnya?

Pertanyaan itu barangkali sering mengusik benak kaum perempuan. Sepanjang sejarah memang tidak banyak perempuan yang menjadi pemikir, pemimpin, kaum ulama, sufi, pahlawan, pemuka dan tokoh masyarakat. Dengan demikian, secara sepintas akan terlihat sebagai bukti tentang kelemahan kaum perempuan. Asumsi ini tampaknya banyak dipegang baik oleh kaum laki-laki maupun perempuan sendiri. Tentang perbedaan laki-laki dan perempuan memang sering sekali menjadi perdebatan yang hangat dan tak pernah usai. Sebagian ada yang mati-matian menyamakan dan mensejajarkan antara keduanya. Sebagian lagi ada yang secara tegas membedakan dalam berbagai hal, dan menganggapnya sebagai kodrat atau takdir.

Manakah yang benar?

Tentu saja keduanya harus dipandang secara proporsional mana yang berbeda dan mana yang memiliki kesamaan. Kesalahan dalam mempersepsikan persamaan dan perbedaan laki-laki dan perampuan bisa berakibat fatal. Propaganda yang gencar mengenai kesamaan laki-laki dan perempuan, bisa menjadi beban dan justru merugikan kaum perempuan itu sendiri. Sedangkan perbedaan yang digeneralisir dalam semua hal, juga umumnya melemahkan perempuan. Betapa banyak lebel-lebel yang dilekatkan pada perempuan yang seolah-olah merupakan kodrat yang umumnya bernada negatif. Selain kurang cerdas dan emosional, perempuan seringkali dianggap boros, santai, penakut, cerewet, tidak tegas, senang menggosip, dan lain-lain.

Dua Aliran Pandangan stereotype terhadap karakteristik (status dan juga peran) perempuan melahirkan dua aliran besar (mainstream).

Yaitu pertama teori nature (alam) yang beranggapan bahwa karakter perempuan disebabkan karena faktor biologis dan komposisi kimia dalam tubuh. Perbedaan tersebut menimbulkan perbedaan aspek psikologis dan intelektual. Kalau laki-laki dianggap mempunyai sifat agresif, rasioal, independen, percaya diri, pemberani, maka perempuan sebaliknya. Menurut teori ini faktor-faktor tersebut menyebabkan problem ketergantungan. Karena itulah, perempuan dianggap sukar untuk maju dan berkembang, sehingga kurang memiliki peranan di masyarakat.

Teori yang kedua adalah teori nurture (kebudayaan). Menurut teori ini faktor yang paling menentukan posisi, peran, dan karakteristik perempuan adalah lingkungan dan budaya. Selama ini budaya, pola asuh, struktur masyarakat kurang memberikan dukungan terhadap tumbuh kembangnya potensi perempuan. Sehingga sesungguhnya anggapan kurang cerdasnya perempuan, itu bukan faktor bawaan. Masih berkaitan dengan masalah di atas, menurut para feminis, terdapat kekeliruan yang mendasar terhadap persoalan perbedaan laki-laki dan perempuan.

Ada perbedaan antara faktor yang disebut kodrat dan apa yang sekarang popular disebut gender. Kodrat merujuk pada perbedaan jenis kelamin yang ditentukan berdasarkan aspek biologis. Hal yang bersifat biologis ini melekat pada jenis kelamin tertentu, sehingga tidak dapat dipertukarkan, contohnya perbedaan pada organ reproduksi. Perempuan alat reproduksinya berupa rahim, vagina, dan payudara yang memungkinkan perempuan dapat mengandung, melahirkan dan menyusui. Sedang organ reproduksi laki-laki sangat berbeda. Hal inilah yang dimaksud dengan kodrat, ketentuan dan ciptaan Allah yang tidak dapat berubah, mutlak dan tanpa kecuali.

Faktor kedua (gender) merupakan perbedaan laki-laki dan perempuan yang ditentukan berdasarkan anggapan manusia atau masyarakat, karena pola sosial dan budaya. Misalnya laki-laki dianggap kuat, memiliki akal rasional, dan perkasa, sedangkan perempuan lembut, perasa dan emosional. Hal-hal semacam ini sebenarnya bukan kodrat atau ciptaan Allah, tetapi karena diciptakan dan dibentuk oleh suatu budaya masyarakat. Oleh karena itu, stereotip seperti itu dapat berubah dan dipertukarkan. Dalam kenyataannya, tidak semua laki-laki lebih cerdas atau lebih pintar daripada perempuan.

Sebaliknya, ada juga laki-laki yang emosional dan lemah lembut. Pandangan tentang kehebatan dan kelebihan (superioritas), dan kelebihan akal tidak bersifat mutlak dan bukan sesuatu yang kodrati. Faktor Agama Mencermati dua aliran pemikiran tersebut, tampaknya kita perlu jeli melakukan analisis. Pandangan ekstrim bahwa faktor biologis atau kodratlah yang menentukan sifat perempuan tentu saja salah. Fakta membuktikan bahwa tidak 100% perempuan kurang cerdas, emosional, dan lain-lain. Meski dalam jumlah tidak banyak ada perempuan-perempuan dalam lintasan sejarah yang memiliki keutamaan dam sangat berperan dalam masyarakat. Bukankah Aisyah istri Rasulullah juga seorang yang cerdas? Bukankah sejarah Indonesia sendiri memiliki Tjoet Nyak Dien, pahlawan Aceh terkenal yang pemberani. Kurangnya perempuan yang “berhasil” bukan karena tidak berpotensi melainkan karena kurangnya kesempatan yang diberikan untuk bekembang. Perempuan menjadi tidak cerdas justru karena dianggap bodoh. Ketika masyarakat makin menyadari pentingnya pendidikan dan memberikan kesempatan untuk belajar, banyak perempuan yang mengungguli laki-laki. Hal ini tentu saja bisa dijadikan tolok ukur. Kalau kian terbukti perempuan bisa jadi pandai tentu saja perempuan pun bisa menjadi seseorang yang tidak terlalu tergantung, emosional, lemah, kurang bisa mengatur waktu, menjaga lidah dan lain-lain. Begitu banyak sifat negatif yang ditimpakan seolah-olah milik perempuan dan dianggap “sudah dari sananya” yang seolah sulit untuk diubah. Pandangan seperti itulah yang justru mengajari perempuan untuk memiliki karakteristik negatif dan lemah.

Tak ada satu ayat pun dalam al-Qur’an yang mengatakan sifat wanita dan laki-laki merupakan ketentuan atau kodrat. Yang secara tegas dan eksplisit dinyatakan bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki potensi untuk beriman dan bertakwa sebagaimana yang dikatakan dalam surat An Nisa ayat 124 yang berbunyi “Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” Aliran lain yang mengatakan bahwa tidak ada kaitan antara aspek biologis (termasuk organ reproduksi dan komposisi kimiawi) dengan aspek kejiwaan (psikologis) laki-laki dan perempuan tentu saja perlu dipertanyakan juga. Bukankah dengan proses reproduksi seperti hamil, melahirkan, menyusui, membuat perempuan cenderung lebih peka, penyayang, lembut, dan lain-lain.

Meskipun, dalam kasus khusus ada juga kelembutan laki-laki melebihi perempuan. Sifat yang umumnya dianggap dominasi wanita tak selamanya buruk, bahkan sangat dibutuhkan dalam rumah tangganya baik untuk membesarkan anak-anaknya maupun dalam mendampingi suami. Pola Asuh Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita dengar ketika seorang anak laki-laki menangis orang tua akan mengatakan, “Masa anak laki-laki cengeng. Seperti anak perempuan saja!” Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat umumnya mendidik anak laki-laki untuk kuat, berani, mandiri, dan tidak cengeng, namun memaklumi bahkan cenderung membiarkan anak perempuan untuk bersikap lemah. Hal tersebut, tidak saja untuk yang berkaitan dengan masalah emosional, namun juga dalam hal fisik. Ketika anak perempuan aktif, berlari-lari, memanjat, maka umumnya orang tua melarang bersikap demikian, padahal itu baik untuk latihan fisiknya. Selama ini, paham ini terus tersosialisasi secara mantap, yang lambat laun akhirnya baik laki-laki maupun perempuan menjadi terbiasa dan menganggap dan meyakini bahwa karakteristik perempuan adalah kodrat. Sebagai sesuatu yang diterima dan tidak dapat dirasakan sebagai sesuatu yang salah. Kaum perempuan harus mau mengubah diri karena hanya diri kita sendirilah yang bisa mengubah. Barangkali tak mudah mengubah persepsi yang sudah dianggap menjadi keyakinan bersama, namun secara perlahan kita bisa mencoba. Oleh karena itu yang paling berperan untuk mendobrak semua ini adalah keluarga. Karena keluargalah yang akan paling berpengaruh. Orang tua harus yakin bahwa sifat laki-laki dan perempuan bukan sesuatu yang mutlak, yang merupakan bawaan. Orang tua harus mendidik tidak cengeng, kuat, berani, mandiri, tegas, tidak saja pada anak laki-laki, melainkan juga pada anak perempuan. Dengan demikian berbagai pandangan negatif tentang sifat wanita dapat dihilangkan.·

16
Oct
09

my confession

most of friends say that handayaniciput is

  1. cerdas
  2. pintar
  3. tegas
  4. kritis
  5. semangat
  6. angkuh
  7. keras kepala
  8. sombong
  9. pemarah
  10. mandiri
  11. kalem tapi aktif
  12. jutek
  13. ga sabaran

yang bener…dari semua itu

i’m totally a perfect liar…even my own self doesn’t know which the real me…

14
Oct
09

mengharapkan dunia yang berbeda

i wish i’m not here..

kali ini aku bermimpi lagi dan berharap mimpi itu jadi kenyataan lagi..

disana aku terduduk temenung bersenjatakan sebuah kamera…my babe…my baby babe.cuma dia yang tak pernah pertanyakan apa yang aku lalukan padanya benar atau salah ia menemani aku duduk di pojok gelap yang nyaman itu…bersamanya aku ditemani kerlip lampu dikejauhan…rasanya tenang sekali sembari merasakan denyut dikepala yang tak kunjung hilang..mencemaskan apa jadinya hari esok…

hari ini klo dihitung aku makan sekali seporsi indomie goreng+sebuah bakso dan beberapa helai sawi.(satu lembar dipotong empat) sampai malam ini tak ada rasa lain kecuali ingin membenamkan kepala sedalam2nya dikasur air…aku rindu rumah…

rindu omelan mama…rindu berpijak di butiran batu di teras belakang…rindu mandi dibawah pancuran…aku memang tak terlalu stabil jika terlalu lama jauh dari rumah…..huff harus cepat selesaikan semua ini….supaya perjalanan itu bisa cepat dimulai….

13
Oct
09

coffee toffee

I NEED COFFEE…menu malem ini kopi…menu racikan barista Coffee Toffee..lumayan bikin kepala ringan. Racikan blended coffee yang katanya light coffee ini bisa ditawar isinya. kopi,susu,coklat,yang di blend jadi satu ini aku tawar…jadi ga’ pake susu..alasannya. Aku cuma ingin rasa kopi malam ini. Ga’ tw kenapa pahit kopi yang aku cari kalau kepala sedang tersumbat pening.

Beberapa teman mengeluhkan rasa kopi yang kupesan ini. Tapi buatku pahitnya pas. Pas untuk di rasakan sedikt demi sedikit sambil menyadarkan kepala dari pening dan sumpek. Ice blendednya juga ok…ga’ perlu waktu lama buatku untuk menikmati kopi segelas penuh…bahkan kopi pahit segelas penuh dengan ampas yang paling kucari, sayangnya tak benyak tempat di Jakarta yang aku tahu menyediakan kopi jenis ini..kopi di Coffee Toffee ga’ ada ampasnya..tapi cukuplah mengobati( dengan rasa Grilled kopinya).

mulai menulis lagi…

(Coffee Toffee, I Need Coffee without milk, deket Tip Top Rawamangun)

12
Oct
09

MURID PALING-PALING

Yang namanya jadi murid jaman sekolah tuh paling-paling deh buat guru…makana sekarang saya dapetnya juga murid yang paling-paling….ha2 pastinya kuesel banget..tapi seneng and ketawa geli klo inget jaman sekolah dulu…sama bandelnya.

ini List “Paling-Paling”

  1. paling males
  2. paling ngeselin
  3. paling lebay
  4. paling caper
  5. paling sibuk sendiri
  6. paling bandel klo soal nyontek

cara menetralisir Paling-Paling no 1

Paling Males

punya temen yang rajin dan bae2…harus tetep rajin temenan makanya…jadi klo ada PR ato catetan bisa liat….he2

cara menetralisir Paling-Paling no 2

paling ngeselin

ngeselin guru seh boleh…tapi harus tetep deket2 ma tuh guru…tetep bantuin dia klo keberatan bawa banyak buku…apusin papan tulis…pokokna bantuin deh…

cara menetralisir Paling-Paling no 3

paling lebay

klo ini harus dimanfaatin bwt memeriahkan kelas n ikut lomba harus ditambah sedikit bumbu PD supaya lengkap..

cara menetralisir Paling-Paling no 4

paling caper

klo yang ini …ga’ bisa diapa2in he2

cara menetralisir Paling-Paling no 5

paling sibuk sendiri

ini bantuin guru penyelesaian bagus…pasti dapet tambahan nilai klo sering sibuk bantu acara guru/ sekolah

cara menetralisir Paling-Paling no 6

paling bandel klo soal nyontek

yang ini cara penyelesaianna harus dilakukan selihai mungkin he2….tanpa diketahui sapapun…

selamat mencoba…

12
Oct
09

BAWANG MERAH N BAWANG PUTIH (ONION N GARLIC)

The story started in a big house where a mother and two beautiful girls lived. There was no man in that house because he was already dead. The father left two beautiful girls from different mothers. First mother was dead and left him a beautiful little girl called Bawang Putih. Then after she became young girl, her father left her with a stepmother and a stepsister called Bawang Merah. It was a bad luck for Bawang Putih because her stepsister and her stepmother were not kind of person who liked her.

Bawang Putih was a maid in her own house. She did all the houseworks. She cleaned, washed and cooked. Her stepmother and her stepsister were the queens in the house.

In one usual day, Bawang Putih went to the river to wash her stepmother’s clothes. She accidentally washed away her mother’s shawl. That would be a problem because the shawl was her favorite. When her stepmother knew, she got furious. She kicked Bawang Putih off the street. She would not let Bawang Putih home if she could not find the shawl.

Bawang Putih walked fringing the edge of the river. Her eyes were looking for a piece of yellow shawl stacked on the rocks in the river. However, she did not see anything. Bawang Putih continued walking. She stopped in front of women who washed there. “Did you see a yellow shawl swept away?” Bawang Putih asked them.

“Yes. I saw it. Buto Ijo took it a while ago. Is it yours?” one of them asked Bawang Putih.

“Yes it is. I have to get there then” Bawang Putih said.

“Be careful Bawang Putih. Buto Ijo is crazy,” they warn her.

Buto Ijo was an old woman who lived alone. They said she was a little bit crazy. Her hair was like branches of tree, dirty and stiff. She lost almost her teeth and she liked talking alone. The rumor told Buto Ijo cooked from human bones. It was scary.

Bawang Putih came to Buto Ijo’s house. The house looked dirty and untidy. It is as no one ever lived there. She knocked the door carefully. She heard a walk came to the door. Bawang Putih was a bit afraid. The door was opened, a wrinkle face came from it.

Her eyes looked sharply, she seemed did not like to be bothers.
“What do you want?” the old woman asked suspicious. She did not smile at all.

“I’m looking for a shawl. It is yellow. The woman in the river said you had taken it. The shawl belongs to my mothers,” Bawang Putih said.

“Yes, I took it. “ Buto Ijo said. “But if you want it you have to stay here for a while and did what I order.”

“What do you want me to do?” Bawang Putih said.

“I want you to clean the house and garden. You also have to cook for me” Buto Ijo gave her conditions.

Bawang Putih agreed. She stayed there for a while, cooked and cleaned the house. Buto Ijo was not that scary like her thought. In fact, Buto Ijo was a nice old woman and funny. She liked her. After couple of days, Buto Ijo gave the shawl to her. Before Bawang Putih left the house, Buto Ijo gave her pumpkin.

“These are pumpkin. One of them is yours, Bawang Putih and open it when you get home,”

Buto Ijo said. Bawang Putih took the small pumpkin.

“Thank you Buto Ijo” she said. Bawang Putih then went home.

In her house, Bawang Merah sliced the pumpkin. She was surprised seeing there was a bunch of jewelry in it. Her stepmother and her stepsister were surprised too.

“Where did you get that?” her stepsister asked.

“Buto Ijo gave it to me,” Bawang Putih said. Then she told them the story.

Bawang Merah wanted to get a pumpkin with jewelry in it too. The she went to the river and washed away her shawl in purpose. She followed the shawl and she saw Buto Ijo took it. She went to Buto Ijo’s house and asked her for the shawl. Buto Ijo said if Bawang Merah wanted her shawl she had to stay there for a while and she had to do the housework. It was just as she asked to Bawang Putih. For a pumpkin of jewelry, Bawang Merah agreed to stay there and do the houseworks.

After couple of days, Buto Ijo gave her shawl. Before Bawang Merah left the house, Buto Ijo gave her a pumpkin. Bawang Merah was very happy. Her head was full with images of jewelry. Bawang Merah took the big pumpkin. She ran to her house. She could not wait to slice the pumpkin and get the jewelry out of it.

When she got home, she took the knife and cut the pumpkin. She got surprised seeing snakes came out from it instead of jewelries. She threw the pumpkin and ran out the house.

12
Oct
09

Harapan Bumi

Akan ada alasan semua  untuk apapun yang terjadi didalam kehidupan. Terkadang tidak semua alasan atas semua hal dalam hidup dapat secara mudah dan gamblang dikatakan. Karena sesungguhnya nya hanya Sang pencipta yang tahu semua alasan itu. Namun tidak menutup kemungkinan bagi manusia untuk mencoba menemukan dan berfikir mendekati kebenaran yang tersimpan rapi. Tuhan menjanjikan kebenaran bagi makhluknya yang mau berfikir. Dalam tulisan yang ada di dalam tiap halaman ini seorang Ciput akan mencoba membagi pikiran tentang hidup pada yang membaca tulisan ini, buah pikirannya di waktu iseng atau pun serius.>< Pikiran yang tertulis di sini tak sepenuhnya dogmatis setiap saat dapat diperdebatkan di tambah atau dikurangi. Pikiran yang tertulis di sini akan berbeda tiap saatnya tapi akan sesuai dengan ketertarikan Si Ciput. Yang tidak jauh dari seputar IDE, FOTOGRAFI, PERJALANAN, SENI, BUDAYA, MAKANAN, dan PENDIDIKAN. Kalau ke-depan nya topik lebih meluas maka patut disyukuri karena itu berarti Si Ciput telah belajar lebih banyak. Kalau merasa ada fakta yang salah tertulis di pikiran ini dipersilahkan untuk bertanya, meninggalkan jejak, mengkritik, atau berpendapat bebas tanpa batas….thanks for participating




Kabar Ciput

HandayaniCiput

Comments

enggahome on Harapan Bumi

BIG DAY

February 2012
M T W T F S S
« Oct    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829  

kebunku…

my scrape


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.